SEKILAS INFO
:: - Rabu, 23/06/2021
  • 5 bulan yang lalu / RILIS PEMBARUAN APLIKASI DAPODIK VERSI 2021.C
  • 7 bulan yang lalu / Daftar Calon Penerima Beasiswa dan Bantuan Pendidikan Mahasiswa Beprestasi bisa dilihat di Tab Beranda >> Pengumuman
PENDIDIKAN BERBASIS KETELADANAN

Meskipun dalam teori pendidikan,  kaum Romantik memahami arti pendidikan secara luas, berbeda dengan kaum Behavioris yang mendukung pendidikan dalam arti sempit, namun kata pendidikan apabila disebutkan secara mutlak, maka arti pendidikan itu mencakup keduanya.

Baik dalam arti luas sebagai proses yang alamiah dari kehidupan manusia maupun dalam arti sempit dimana pendidikan identik dengan sekolah, pada dasarnya pendidikan akan berbicara tentang perubahan. Perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mandiri menjadi mandiri,  dari tidak beradab menjadi beradab, dari tidak manusiawi menjadi manusiawi dan seterusnya.

Seseorang mengalami perubahan berdasarkan kans dan tujuannya. Benyamin S Bloom (1956) mengelompokkan tujuan belajar berdasarkan domain belajar menjadi tiga, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Berbagai macam pendekatan dan metode pembelajaran dapat digunakan untuk mencapai tujuan pada masing-masing domain. Untuk kawasan afektif,  yang erat kaitannya dengan pembentukan perilaku, sikap dan nilai,  dibutuhkan semacam pola pembudayaan melalui sebuah keteladanan.

Maraknya kasus-kasus kekerasan peserta didik terhadap gurunya serta perilaku amoral lainnya mengundang keprihatinan khususnya pemerhati dan praktisi pendidikan, sekaligus introspeksi di semua lingkungan pendidikan, keluarga, masyarakat maupun sekolah, sebagaimana sebuah kata bijak yang mengatakan bahwa orang yang hebat itu bukanlah yang bisa melihat kesalahan orang lain, tapi yang bisa melihat kesalahannya sendiri sebelum menyalahkan orang lain.

Seseorang menjadi berakhlak dan berbudi pekerti baik,  tidak cukup hanya dengan mengajarinya tanpa ada unsur keteladanan di  dalamnya. Karena itu salah satu prinsip penyelenggaraan pendidikan dalam UU Sisdiknas pada pasal 4 adalah pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan.

Seorang budayawan pernah mengatakan bahwa seorang anak yang rajin membaca bukan karena disuruh membaca, tapi karena selalu melihat orang tuanya membaca. Ini senada dengan perkataan lisanu al-hal afshahu min lisani al-maqal  (bahasa perbuatan lebih fasih daripada bahasa lisan).

Seorang anak kecil yang belum sanggup berbicara dan memahami perintah lisan  pun dapat meniru pekerjaan yang sering ia saksikan.  Memang ada kecenderungan manusia untuk lebih mudah meniru perilaku orang lain daripada menaati perintah lisan. Hasil tiruan yang berulang-ulang inilah, disadari atau tidak akan perlahan membentuk sikap dan karakter seseorang.

Melatih sikap, membentuk kepribadian dan menanamkan nilai pada seseorang dengan cara memberikan contoh atau teladan,  apalagi melalui keteladanan kolektif lebih efektif dibandingkan hanya sekadar instruksi lisan, karena orang pada dasarnya tidak senang disuruh-suruh, diatur-atur, atau merasa terlalu diawasi melalui peraturan yang ketat, bahkan terkadang muncul resistensi. Mirip dengan sebuah pendapat yang mengatakan bahwa semakin banyak peraturan yang dibuat oleh negara, semakin menunjukkan bahwa Negara itu lemah, karena itu yang dibutuhkan bukan semata-mata aturan, tapi pembudayaan hukum.

Mengajari seseorang tanpa ada keteladanan di dalamnya serupa dengan orang yang melakukan amar ma’ruf tapi dia sendiri tidak mengamalkannya, meskipun memerintahkan orang lain  berbuat kebaikan yang kita sendiri tidak amalkan tetaplah sebuah kebaikan. Dalam Al-Quran dikatakan, “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. Hal (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”(QS. Ash-Shaff: 2-3). Oleh karena itu, seorang pendidik bukan hanya pengajar yang mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan atau uswah, sebagaimana juga disebutkan dalam UU Sisdiknas pada pasal 40 tentang kewajiban pendidik, yaitu salah satunya memberi teladan.

Manusia terbaik sekaliber Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun tidak hanya berdakwah dengan lisannya, tetapi juga memanifestasikan dalam tindakan nyata, di antaranya melalui akhlaknya, “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. Al Qalam:4), karena itulah Rasulullah disebut dalam Al Qur’an sebagai uswatun hasanah, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu” (QS. Al Ahzab:21), uswah adalah qudwah yaitu ikutan atau panutan, atau kepribadian yang dimiliki seseorang yang menarik untuk diikuti oleh orang lain. Karena itulah dalam hadits tidak hanya dikenal hadits qauliyah atau ucapan, tapi juga fi’liyah atau perbuatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencontohkan salah satunya dalam peristiwa hudaibiyah. Manakala Rasulullah memerintahkan para sahabatnya radhiyallahu anhum untuk menyembelih qurban selepas terjadinya perjanjian dengan pihak Quraisy. Namun ketika itu para sahabat tidak mengerjakannya karena sifat manusiawi mereka yang merasa kecewa dengan isi perjanjian yang menurut mereka merugikan kaum muslimin. Namun setelah mendapat saran dari istrinya, Ummu Salamah radhiyallahu anha, Rasulullah keluar tanpa sepatah kata pun dan langsung menyembelih untanya, kemudian memanggil tukang cukur untuk mencukur rambut beliau. Melihat hal tersebut, maka para sahabat pun segera bangkit dan mengikuti Rasulullah.

Melihat tujuan pendidikan nasional, yaitu untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu dan seterusnya, maka tidak cukup hanya dengan mengajarkan peserta didik ilmu pengetahuan yang menjadikan mereka cerdas dan berilmu,  tapi harus disertai keteladanan dalam mengembangkan potensinya untuk memiliki kekuatan spiritual, akhlak mulia, serta kepribadian yang baik. Memberikan contoh kebaikan untuk diteladani adalah aset bangunan pendidikan yang kokoh, karena itu disebutkan dalam hadits “Barangsiapa dalam Islam memberikan contoh kebaikan maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya” (HR. Muslim). Begitu pula dalam hadits yang lain“Barangsiapa menunjukkan kepada sebuah kebaikan maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukan kebaikan itu”(HR. Muslim).

Salah satu metode pendidikan yang sarat dengan nilai keteladanan adalah yang dicontohkan para ulama terdahulu yang disebut mulazamah. Mulazamah berasal dari kata Arab, laazama-yulaazimu yang artinya menemani atau tinggal bersama. Seorang murid menetapi dan tinggal bersama gurunya, sehingga selain terjadi transfer ilmu pengertahuan, juga mengalir perilaku dan perbuatan yang dicontohkan dalam keseharian sang guru kepada muridnya. Karena itulah para ulama terdahulu terkadang lebih banyak belajar adab dan akhlak dari gurunya sebelum mengambil ilmunya. Bahkan di antara mereka ada yang mendatangi seorang guru hanya untuk melihat akhlak dan kepribadiannya untuk diambil faidahnya.

Kita berharap adab dan akhlak yang baik serta nilai-nilai kejujuran menjadi teladan yang semakin tumbuh dan dilestarikan di semua lingkungan pendidikan khususnya pendidikan formal yang saat ini lebih banyak dipercayakan untuk memikul beban pendidikan, sehingga fungsi Negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana tertuang dalam alinea keempat pembukaan UUD 1945 tidak hanya kecerdasan intelektual. Harapan itu setidaknya tercermin melalui tema Hari Guru Nasional tahun 2017 lalu, yaitu “Membangun Pendidikan Karakter Melalui Keteladanan Guru”.

Allahu A’lam bi Ash-Shawab.

Dipublikasikan harian Amanah edisi 21 dan 22 Maret 2018, dan saat ini telah dikumpulkan untuk menjadi salah satu judul dalam buku penulis yang sementara dalam proses penerbitan.

 

Oleh: Muhlis Pasakai (Pendidik Pada SMP Negeri 22 Sinjai)

TINGGALKAN KOMENTAR

Peta Lokasi